Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman sudah pasti menjadi dambaan
setiap warga sekolah, baik itu guru, tenaga kependidikan, murid maupun orang tua
murid. Namun, sudahkan lingkungan seperti itu dapat kita jumpai di setiap
sekolah? Mari kita mencari jawabannya dengan merefleksi diri dan merasakan
dengan hati, bagaimana lingkungan sekolah kita.
Standar
Pendidikan Nasional menyebutkan :
Dalam rangka
menciptakan lingkungan yang positif maka setiap warga sekolah dan pemangku kepentingan
perlu saling mendukung, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang
telah disepakati bersama. Untuk dapat menerapkan tujuan mulia tersebut, maka
seorang pemimpin pembelajaran perlu berjiwa kepemimpinan sehingga dapat
mengembangkan sekolah dengan baik agar terwujud suatu budaya sekolah yang
positif sesuai dengan standar kompetensi pengelolaan yang telah ditetapkan.
Rasa aman dan nyaman tersebut akan dapat kita rasakan jika di
lingkungan sekolah sudah tertanam budaya positif. Karena itu budaya positif
juga mampu mendorong murid untuk bepikir, bertindak secara mandiri dan
bertanggungjawab dalam proses belajar untuk menemukan kemerdekaannya.
Membahas tentang budaya positif, ada satu kata yang sangat lekat dalam
proses penumbuhan budaya, yaitu kata disiplin. Disiplin merupakan upaya yang
dilakukan seseorang untuk mendapatkan kepatuhan, sehingga terkadang disiplin
berkecenderungan memunculkan ketidaknyamanan.
Tujuan mulia dari penerapan disiplin positif adalah agar terbentuk
murid-murid yang berkarakter, berdisiplin, santun, jujur, peduli, bertanggung
jawab, dan merupakan pemelajar sepanjang hayat sesuai dengan standar kompetensi
lulusan yang diharapkan.
Bapak
Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “dimana ada
kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu
bersifat ‘self discipline’ yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan
sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap
melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan
peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka.
(Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap
Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)
Karena itulah, sebagai pendidik kita perlu menguatkan disiplin
positif di lingkungan sekolah kita agat tumbuh dan berkembang menjadi budaya
positif sekolah.
Bagaimana upaya kita menumbuhkan budaya positif di sekolah?
1.
Mulai
dari diri sendiri
Jadilah guru yang pantas menjadi
teladan murid, ubah paradigma stimulus respon kepada pendekatan teori kontrol.
Stephen R. Covey (Principle-Centered
Leadership, 1991) mengatakan bahwa,
“..bila kita ingin
membuat kemajuan perlahan, sedikit-sedikit, ubahlah sikap atau perilaku Anda.
Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu
mengubah kerangka acuan kita. Ubahlah bagaimana Anda melihat dunia, bagaimana
Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema pemahaman dan
penjelasan aspek-aspek tertentu tentang realitas”.
2.
Berkolaborasi
dengan rekan guru dan pemangku kepentingan sekolah
Diperlukan kerjasama dan dukungan semua
elemen pendidikan dalam menyusun program kegiatan pembiasaan positif sekolah.
3.
Membuat
kesepakatan kelas/sekolah
Untuk memunculkan nilai-nilai
kebajikan universal yang disepakati bersama sehingga akan menumbuhkan motivasi
intrinsik dari murid.
4.
Tuntun
murid menemukan dunia berkualitas
Cari tahu dari 5 kebutuhan dasar
manusia, kebutuhan dasar apa yang belum terpenuhi sehingga memicu murid/warga
sekolah melakukan pelanggaran, selanjutnya berikan solusi untuk memenuhinya.
5.
Gunakan
posisi kontrol yang tepat
Melanggar aturan merupakan sifat
alami manusia, karena itu diperlukan orang lain yang mengontrol dirinya jika
dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
6.
Lakukan
segitiga restitusi dalam menyelesaikan masalah
Mencari siapa yang bersalah bukanlah
tujuan penyelesaian masalah, namun menumbuhkan kesadaran diri tentang kesalahan
yang dilakukan dan upaya dari dalam diri sendiri menemukan solusi perbaikan
diri.











